Jumat, 10 April 2015


Nama                          : Ghina Farras Ayuningtyas
NIM                            : 1200419
Program Studi             : Pendidikan Matematika

Resume Presentasi BK Kelompok 6
MASALAH-MASALAH SISWA DI SEKOLAH SERTA PENDEKATAN-PENDEKATAN UMUM DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING
A.      Masalah-masalah Siswa di Sekolah
Sebagai manusia siswa pasti memiliki masalah, namun kompleksitas masalah-masalah yang dihadapi oleh individu satu dengan yang lainnya berbeda. Menurut Tohirin (2007:111) siswa di sekolah akan mengalami masalah-masalah yang berkenaan dengan:
1.      Perkembangan individu,
2.      Perbedaan individu dalam hal kecerdasan, kecakapan, hasil belajar, bakat, sikap, kebiasaan, pengetahuan, kepribadian, cita-cita, kebutuhan, minat, pola-poladan tempo perkembangan, ciri-ciri jasmaniah, dan latar belakang lingkungan,
3.       Kebutuhan individu dalam hal: memperoleh kasih sayang, memperoleh harga diri, memperoleh penghargaan yang sama, ingin dikenal, memperoleh prestasi dan posisi, untuk dibutuhkan orang lain, merasa bagian dari kelompok, rasa aman dan perlindungan diri, dan untuk memperoleh kemerdekaan diri,
4.      Penyesuaian diri dan kelainan tingkah laku,
5.      Masalah belajar.
M. Hamdan Bakran Adz-Dzaky (2004) mengklasifikasikan masalah individu termasuk siswa sebagai berikut:
1.        Masalah atau kasus yang berhubungan problematika individu dengan Tuhannya
Masalah individu yang berhubungan dengan Tuhannya diantaranya sulit menghadirkan rasa takut, memiliki rasa bersalah atas dosa yang dilakukan, sulit menghadirkan rasa taat, merasa bahwa Tuhan senantiasa mengawasi perilakunya sehingga individu merasa tidak memiliki kebebasan. Dampak dari masalah-masalah tersebut adalah timbulnya rasa malas untuk melaksanakan ibadah dan sulit untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dilarang Tuhan.
2.        Masalah individu dengan dirinya sendiri
Hal yang dalam masalah individu dengan dirinya sendiri adalah kegagalan bersikap disiplin dan bersahabat dengan hati nurani yang selalu mengajak atau menyeru dan membimbing pada kebaikan dan kebenaran Tuhannya. Dampak dari masalah ini adalah muncul sikap was-was, ragu-ragu, berprasangka buruk, rendah motivasi, dan tidak mampu bersikap mandiri.
3.        Individu dengan lingkungan keluarga
Masalah individu yang berhubungan dengan lingkungan keluarga misalnya kesulitan atau ketidakmampuan mewujudkan hubungan yang harmonis antar anggota keluarga. Tidak harmonisnya keluarga dapat menyebabkan anak merasa tertekan, kurang kasih sayang, dan kurangnya ketauladan dari kedua orang tua.
4.        Individu dengan lingkungan kerja
Masalah individu yang berhubungan dengan lingkungan kerja misalnya kegagalan individu memilih pekerjaan yang sesuai dengan karakteristik pribadinya, kegagalan dalam meningkatkan prestasi kerja, ketidakmampuan berkomunikasi dengan atasa, rekan kerja, dan kegagalan dalam melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.
5.        Individu dengan lingkungan sosialnya
Masalah individu yang berhubungan dengan lingkungan sosialnya misalnya ketidakmampuan melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan tetangga, sekolah, dan masyarakat atau kegagalan bergaul dengan lingkungan yang beraneka ragam watak, sifat, dan perilaku.
Beberapa contoh masalah-masalah siswa di sekolah yaitu:
1.       Prestasi belajar rendah
Hal ini ditandai dengan nilai rapor banyak yang merah, nilai tugas atau ujian yang rendah, dari waktu ke waktu nilai menurun, mendapat peringkat di bawah rata-rata untuk beberapa mata pelajaran. Rendahnya prestasi belajar dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan yaitu tingkat kecerdasan di bawah rata-rata, malas belajar, kurang minat dan perhatian, kekurangan sarana belajar, kekurangan kesempatan atau waktu untuk belajar, proses belajar mengajar di sekolah kurang merangsang, suasana sosio-emosional sekolah kurang memungkinkan siswa untuk belajar dengan baik.
Kemungkinan akibat yang ditimbulkan dari masalah ini adalah minat belajar semakin berkurang, tidak naik kelas, dikeluarkan dari sekolah, frustasi yang mendalam, tidak mampu melanjutkan pelajaran, kesulitan mencari kerja.
2.      Melanggar tata tertib
Hal ini ditandai dengan sejumlah tata tertib di sekolah tidak dipatuhi misalnya berkaitan dengan kehadiran di sekolah, baju seragam, tempat duduk dalam kelas, penyelesaian tugas-tugas; pelanggaran tersebut terlihat bukan tanpa disengaja; dan pelanggaran tersebut dilakukan berkali-kali. Pelanggaran tata tertib tersebut dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan, yaitu tidak begitu memahami kegunaan masing-masing aturan atau tata tertib yang berlaku di sekolah, siswa yang bersangkutan terbiasa hidup terlalu bebas, baik di rumah maupun di masyarakat, tindakan yang dilakukan terhadap pelanggaran terlalu keras sehingga siswa mereaksi secara tidak wajar, ciri khusus pelanggaran perkembangan remaja yang agak sukar diatur namun belum dapat mengatur dirinya sendiri, ketidaksukaan pada mata pelajaran tertentu dilampiaskan pada pelanggaran tata tertib sekolah.
Kemungkinan akibat yang ditimbulkan dari masalah ini adalah tingkah laku siswa makin tidak terkendali, terjadi kerenggangan hubungan antara guru dan murid, suasana sekolah dirasakan kurang menyenangkan bagi siswa, proses belajar mengajar terganggu, kegiatan belajar siswa terganggu, nilai rendah, tidak naik kelas, dikeluarkan dari sekolah.
3.      Pendiam
Hal ini ditandai dengan kurang mau berbicara atau bertegur sapa, kurang akrab terhadap teman atau guru, tidak ceria. Siswa yang pendiam dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan, yaitu berwatak introvert, kurang sehat, mengalami gangguan dengan organ bicara, malu atau takut kepada orang lain, merasa tidak perlu atau tidak ada gunanya berbicara, mengalami kesulitan bahasa, sedang dirundung kesedihan atau suasana emosional lainnya yang cukup dalam.
Kemungkinan akibat yang ditimbulkan dari masalah ini adalah tidak disukai kawan dan pergaulan terganggu, kurang mampu mengembangkan penalaran melalui komunikasi lisan.
4.      Bertengkar atau berkelahi
Hal ini ditandai dengan sering salah paham dengan kawan, sombong, memperolokkan, mengejek dan menantang orang lain, tidak mau dilarang, ditakuti kawan-kawannya, tidak mau menerima pendapat orang lain, membentuk “kliek keras” yang tindakannya merugikan siswa-siswa yang lemah. Pertengkaran atau perkelahian ini dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan, yaitu pengendalian diri kurang, mau menang sendiri, merasa jagoan, hiperaktif, suasana rumah yang keras atau sebaliknya terlampau memberi hati (permisif).
Kemungkinan akibat yang ditimbulkan dari masalah ini adalah tidak disukai kawan dan guru, luka, melalaikan pelajaran, nilai rendah, tidak naik kelas, berurusan dengan polisi, dikeluarkan dari sekolah.
5.      Sukar menyesuaikan diri
Hal ini ditandai dengan sering terjadi salah paham dengan kawan, sombong atau tinggi hati suka membanding-bandingkan dan menjelekkan orang lain, tidak mau menerima pendapat orang lain, curiga dan kurang percaya pada orang lain, pergaulan sangat terbatas. Sukar menyesuaikan diri ini dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan, yaitu mau menang sendiri, memiliki standar yang berbeda dengan standar yang ada, banyak mengalami kekecewaan dalam berhubungan dengan orang lain, terlalu lama bergaul dengan sekelompok orang dalam suasana tertentu, suasana keluarga terlalu keras.
Kemungkinan akibat yang ditimbulkan dari masalah ini sosialitas kurang berkembang sehingga kurang mendapat keuntungan dari pergaulannya dengan orang lain, tidak dapat mengambil manfaat dari lingkungan demi pengembangan dirinya.
B.       Pendekatan-pendekatan Umum dalam Bimbingan dan Konseling
1.    Pendekatan Krisis
Pendekatan krisis adalah upaya bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami krisis atau masalah. Bimbingan bertujuan untuk mengatasi krisis atau masalah-masalah yang dialami individu. Pendekatan ini banyak dipengaruhi oleh aliran psikoanalisis. Psikoanalisis terpusat pada pengaruh masa lampau sebagai hal yang menentukan bagi berfungsinya kepribadian pada masa kini.
2.    Pendekatan Remedial
Pendekatan remedial adalah upaya bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami kesulitan. Tujuan Bimbingan adalah untuk memperbaiki kesulitan-kesulitan yang dialami individu. Pendekatan remedial ini banyak dipengaruhi oleh aliran psikologi behavioristik. Pendekatan behavioristik ini menekankan pada perilaku siswa di sini dan saat ini.
3.    Pendekatan Preventif
Pendekatan preventif adalah upaya bimbingan yang diarahkan untuk mengantisipasi masalah-masalah umum individu dan mencoba jangan sampai terjadi masalah tersebut pada individu. Pendekatan preventif ini tidak didasari oleh teori tertentu yang khusus.
4.    Pendekatan Perkembangan
Bimbingan dan konseling yang berkembang pada saat ini adalah bimbingan dan konseling perkembangan. Visi bimbingandan konseling adalah edukatif, pengembangan, dan outreach. Edukatif karena titik berat kepedulian bimbingan dan konseling terletak pada pencegahan dan pengembangan. Pengembangan, karena titik sentral tujuan bimbingan dan konseling adalah perkembangan optimal dan strategi upaya pokoknya ialah memberikan kemudahan perkembangan. Outreach, karena target populasi layanan bimbingan dan konseling tidak terbatas pada individu yang bermasalah melainkan meliputiragam dimensi dalam rentang yang cukup lebar.
C.      Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling
1.      Konseling Individual
Konseling individual adalah proses belajar melalui hubungan khusus secara pribadi dalam wawancara antara guru BK dan siswa. Konseling bertujuanmembantu siswa untuk mengadakan interpretasi fakta-fakta, mendalami arti nilai hidup pribadi baik sekarang maupun mendatang. Secara umum Nurihsan (2007) membagi proses konseling individual ke dalam tiga tahapan yaitu:
a.    Tahap Awal Konseling
Hal-hal yang dilakukan guru BK dalam proses konseling tahap awal adalah sebagai berikut:
1)      Membangunhubungan konseling dengan melibatkan siswa yang mengalami masalah.
2)      Memperjelas dan mendefinisikan masalah.
3)      Membuat penjajakan alternatif bantuan untuk mengatasi masalah.
4)      Menegosiasikan kontrak.
b.    Tahap Pertengahan Konseling
Pada tahap ini kegiatan selanjutnya adalah memfokuskan pada penjelajahan masalah yang dialami siswa dan bantuan apa yang akan diberikan berdasarkan penilaian kembali apa-apa yang telah dijelajahi tentang masalah siswa. Adapun tujuan pada tahap pertengahan ini adalah sebagai berikut:
1)   Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah serta kepedulian siswa dan lingkungannya dalam mengatasi masalah tersebut.
2)   Menjaga agar hubungan konseling selalu terpelihara.
3)   Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak.
c.    Tahap Akhir Konseling
Pada tahap ini, konseling ditandai oleh beberapa hal berikut ini:
1)   Menurunnya kecemasan siswa.
2)   Adanya perubahan perilaku yang jelas ke arah yang lebih positif, sehat, dan dinamik.
3)   Adanya tujuan hidup yang jelas di masa yang akan datang dengan program yang jelas pula.
4)   Terjadinya perubahan sikap positif terhadap masalah yang dialaminya.
2.      Konsultasi
Konsultasi dalam program bimbingan dipandang sebagai suatu proses menyediakan bantuan teknis untuk guru, orang tua, administrator, dan guru BK lainnya dalam mengidentifikasi dan memperbaiki masalah yang membatasi efektivitas siswa atau sekolah.
3.      Bimbingan Kelompok
Bimbingan kelompok dimaksudkan untuk mencegah berkembangnya masalah atau kesulitan pada diri siswa. Isi kegiatan bimbingan kelompok terdiri atas penyampaian informasi yang berkenaan dengan masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi, dan masalah sosial yang tidak disajikan dalam bentuk pelajaran. Adapun prosedur bimbingan kelompok terdiri atas:
a.       Langkah awal
Pada langkah awal ini dimulai dengan penjelasan tentang adanya layanan bimbingan kelompok bagi para siswa, pengertian, tujuan, dan kegunaan bimbingan kelompok. Setelah penjelasan ini langkah selanjutnya menghasilkan kelompok yang langsung merencanakan waktu dan tempat menyelenggarakan kegiatan bimbingan kelompok.
b.      Perencanaan kegiatan
Perencanaan kegiatan bimbingan kelompok meliputi penetapan materi layanan, tujuan yang ingin dicapai, sasaran kegiatan, bahan atau sumber bahan untuk bimbingan kelompok, rencana penilaian, waktu dan tempat.
c.       Pelaksanaan kegiatan
Kegiatan yang telah direncanakan itu selanjutnya dilaksanakan melalui kegiatan sebagai berikut:
1)      Persiapan menyeluruh
2)      Pelaksanaan tahap-tahap kegiatan
a)   Tahap pertama: pembentukan, temanya pengenalan, pelibatan dan pemasukan diri.
b)   Tahap kedua: peralihan
c)   Tahap ketiga: kegiatan
d.      Evaluasi kegiatan
Penilaian terhadap bimbingan kelompok berorientasi pada perkembangan yaitu mengenali kemajuan atau perkembangan positif yang terjadi pada diri peserta.
4.      Konseling Kelompok
Konseling kelompok adalah upaya bantuan kepada siswa dalam suasana kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan, dan diarahkan kepada pemberian kemudahan dalam rangka perkembangan dan pertumbuhannya. Konseling kelompok bersifat pencegahan, artinya siswa yang bersangkutan mempunyai kemampuan untuk berfungsi secara wajar dalam masyarakat tetapi mungkin memiliki suatu titik lemah dalam kehidupannya sehingga mengganggu kelancaran berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu, konseling kelompok bersifat pemberian kemudahan dalam pertumbuhan dan perkembangan siswa.
Prosedur konseling kelompok sama dengan bimbingan kelompok, yaitu terdiri atas:
a.       Tahap pembentukan, dengan temanya pengenalan, perlibatan, dan pemasukan diri.
b.      Tahap peralihan, dengan temanya pembangunan jembatan anatara tahap pertama dan tahap ketiga.
c.       Tahap kegiatan, dengan temanya kegiatan pencapaian tujuan.
d.      Tahap pengakhiran, dengan temanya penilaian dan tindak lanjut.
5.      Pengajaran Remedial
Pengajaran remedial merupakan salah satu tahap kegiatan utama dalam keseluruhan kerangka pola layanan bimbingan belajar serta merupakan kegiatan lanjutan logis dari usaha diagnostik kesulitan belajar mengajar. Strategi dan teknik pengajaran remedial dapat dilakukan secara preventif, kuratif, dan pengembangan.
6.      Bimbingan Klasikal
Menurut Sudrajat, bimbingan klasikal termasuk pada strategi untuk layanan dasar bimbingan, Kegiatan layanan dilaksanakan melalui pemberian layanan orientasi dan informasi tentang berbagai hal yang dipandang bermanfaat bagi siswa. Layanan orientasi pada umumnya dilaksanakan pada awal pelajaran yang diperuntukan bagi para siswa baru sehingga memiliki pengetahuan yang utuh tentang sekolah yang dimasukinya. Layanan informasi merupakan proses bantuan yang diberikan kepada para siswa tentang berbagai aspek kehidupan yang dipandang penting bagi mereka baik melalui komunikasi langsung, maupun tidak langsung.


REFERENSI
Makalah Kelompok 6 (Masalah-Masalah Siswa di Sekolah serta Pendekatan-Pendekatan Umum dalam Bimbingan dan Konseling)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar