Rabu, 29 April 2015


Nama                          : Ghina Farras Ayuningtyas
NIM                            : 1200419
Program Studi           : Pendidikan Matematika

Resume Presentasi BK Kelompok 8
Konsep Dasar Diagnostik Kesulitan Belajar dan Pengajaran Remedial
A.      Konsep Dasar Diagnostik Kesulitan Belajar
1.      Definisi Diagnostik Kesulitan Belajar
Di sekolah guru sebagai pendidik memiliki tanggung jawab atas perkembangan peserta didiknya. Salah satu tanggung jawab guru adalah memahami kesulitan belajar peserta didik. Kegiatan memahami kesulitan belajar peserta didik ini dikenal dengan istilah diagnostik kesulitan belajar. Sebelum memahami apa yang dimaksud diagnostik kesulitan belajar, kita perlu memahami istilah diagnostik dan kesulitan belajar.
a.       Diagnostik
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diagnosis/di·ag·no·sis/  adalah penentuan jenis penyakit dengan cara meneliti (memeriksa) gejala-gejalanya. Menurut Harriman dalam bukunya Handbook of Psychological Term, diagnostik adalah suatu analisis terhadap kelainan atau salah penyesuaian dari pola gejala-gejalanya. Jadi diagnostik merupakan proses pemeriksaan terhadap hal-hal yang dipandang tidak beres atau bermasalah.
Sehingga diagnostik dapat diartikan sebagai analisis terhadap suatu masalah dengan meneliti penyebabnya atau dengan melihat gejala-gejala yang tampak.
b.      Kesulitan Belajar
Secara harfiah, kesulitan belajar dapat didefinisikan sebagai rendahnya kepandaian yang dimiliki seseorang dibandingkan dengan kemampuan yang seharusnya dicapai pada umurnya. Secara informal kesulitan belajar dapat dikenali dari keterlambatan dalam perkembangan kemampuan seorang anak. Kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik dapat berasal dari faktor fisiologis, psikologis, instrumen, dan lingkungan belajar.
Berdasarkan definisi diagnostik dan kesulitan belajar maka dapat disimpulkan bahwa diagnostik kesulitan belajar adalah proses menentukan masalah atau ketidakmampuan peserta  didik dalam belajar dengan meneliti latar belakang penyebabnya atau dengan cara menganalisis gejala-gejala kesulitan atau hambatan belajar yang nampak.
2.      Jenis-jenis Kesulitan Belajar
Mengenali kesulitan belajar berbeda dengan mendiagnostik penyakit cacar air atau campak. Untuk dapat mendiagnostik kesulitan belajar sangat rumit karena meliputi begitu banyak kemungkinan penyebab, gejala-gejala, perawatan, serta penanganan. Kesulitan belajar dibagi menjadi tiga kategori besar, yaitu:
a.    Kesulitan dalam berbicara dan berbahasa
Orang yang mengalami kesulitan jenis ini menemui kesulitan dalam menghasilkan bunyi-bunyi bahasa yang tepat, berkomunikasi dengan orang lain melalui penggunaan bahasa yang benar atau memahami apa yang orang lain katakan.
b.    Permasalahan dalam hal kemampuan akademik
Siswa-siswi yang mengalami gangguan kemampuan akademik berbaur bersama teman-teman sekelasnya demi meningkatkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung mereka.
c.    Kesulitan lainnya yang mencakup kesulitan dalam mengoordinasikan gerakan tubuh serta permasalahan belajar yang belum dicakup oleh kedua kategori di atas.
Kesulitan lainnya seperti gangguan kemampuan motorik dan gangguan perkembangan khusus yang belum diklasifikasikan. Gejala-gejalanya adalah keterlambatan atau keterbelakangan dalam memahami bahasa, kemampuan akademis serta motorik yang pada gilirannya memengaruhi kemampuannya untuk memelajari sesuatu.
3.      Faktor Penyebab Munculnya Kesulitan Belajar
Beberapa faktor penyebab munculnya kesulitan belajar menurut Sukardi dibedakan menjadi dua, yaitu:
a.    Faktor internal, yang meliputi:
1)        Kesehatan
Kondisi fisik secara umum dapat memengaruhi kemampuan mencapai suatu tujuan. Kesehatan yang buruk dapat berpengaruh pada tingginya ketidakhadiran siswa dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu, siswa yang kurang sehat juga tidak bisa mencapai potensi yang sebenarnya.
2)        Problem Menyesuaikan Diri
Faktor ini erat kaitannya dengan masyarakat sekitar, namun sumber utama faktor ini berasal dari dalam diri siswa, sebagai contoh memiliki gangguan emosional.
b.    Faktor eksternal, yang meliputi:
1)        Lingkungan
Problem lingkungan muncul sebagai hasil reaksi atau perubahan dalam diri siswa terhadap keluarga atuapun lingkungannya. Penolakan lingkungan terhadap diri siswa dapat menjadi problem yang sulit dalam belajar.
2)        Cara Guru Mengajar yang Tidak Baik
Cara mengajar guru yang tidak baik dapat menimbulkan kesulitan belajar pada siswa. Agar hal ini tidak terjadi maka guru perlu melakukan perbaikan secara berkala, baik penguasaan metode mengajar maupun materi ajar.
3)        Orang Tua
Orang tua yang tidak mau atau tidak mampu menyediakan fasilitas belajar yang memadai bagi anak dapat menjadi faktor pemicu timbulnya kesulitan belajar.
4)        Masyarakat Sekitar
Masyarakat sekitar siswa dapat menjadi sumber masalah, ketika keberadaan masyarakat tidak kondusif maka akan berpengaruh terhadap kebutuhan siswa secara individual maupun kelompok.
4.      Ciri-ciri Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar
Ciri-ciri umum siswa lamban belajar dapat dipahami melalui pengamatan fisik siswa, perkembangan mental, intelektual, sosial, ekonomi, kepribadian, dan proses-proses belajar yang yang dilakukannya di sekolah dan di rumah. Ketidaksanggupan belar dapat disebabkan oleh adanya kerusakan-kerusakan tertentu pada diri seseorang yang membuat seseorang itu lamban belajar. Menurut Cece Wijaya (2010) kerusakan-kerusakan itu dikategorikan dalam empat hal, yaitu:
a.    Dyselexia, kelemahan-kelemahan belajaar di bidang menulis dan berbicara.
b.    Dyscalculia, adalah kesulitan mengenal angka dan pemahaman terhadap konsep dasar matematika.
c.    Attention Defisit Hyperactive Disorder (ADHD), adalah pemusatan perhatian terhadap masalah-masalah yang sedang dihadapinya.
d.   Spatial, motor, ad perceptual defisits, adalah kondisi lemah dalam menilai dirinya menurutukuran ruang dan waktu.
Kerusakan lainnya yang membuat siswa lamban belajar adalah Social defisits, yaitu kesulitan mengembangkan keterampilan sosial. Kesulitan itu dapat membuat ketidaksanggupan menemukan jati dirinya.
5.      Prosedur Diagnostik Kesulitan Belajar
Terdapat tiga langkah umum yang harus ditempuh oleh seorang guru untuk melakukan diagnostik kesulitan belajar yang dialami oleh siswa, langkah-langkah tersebut adalah:
a.    Mendiagnostik kesulitan belajar yang dialami oleh siswa, yaitu dengan cara mengidentifikasi kasus dan melokalisasikan jenis dan sifat kesulitan belajar terebut.
b.    Mengadakan estimasi (prognosis) tentang faktor-faktor penyebab kesulitan belajar yang dialami siswa.
c.    Mengadakan terapi, yaitu menemukan berbagai kemungkinan yang dapat dipergunakan dalam rangka penyembuhan atau mengalami kesulitan belajar yang dialami oleh siswa tersebut.
6.      Mendiagnostik Kesulitan Belajar secara Formal
Diagnostik yang sebenarnya terhadap kesulitan belajar dilakukan dengan metode uji standar yang membandingkan tingkatan kemampuan seorang anak terhadap anak lainnya yang dianggap normal. Masing-masing tipe gangguan belajar didiagnostik dengan cara yang sedikit berbeda. Contoh untuk mendiagnostik kesulitan berbicara dan berbahasa, ahli terapi wicara menguji cara pelafalan bunyi bahasa anak-anak, kosakata, dan pengetahuan bahasa serta membandingkannya dengan kemampuan anak sebaya mereka yang normal.
Kemudian untuk hal yang terkait dengan gangguan kemampuan atau pekembangan akademis, maka pengujiannya dilakukan dengan metode uji standar. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa penanganan gangguan belajar berbeda dengan penanganan ketertinggalan pelajaran di sekolah. Jika sekolah gagal mengenali keterlambatan belajar orang tua dapat mencari alternatif lain.
7.      Evaluasi Diagnostik Kesulitan Belajar
Permasalahan kesulitan belajar yang ditemukan oleh guru perlu dicari penyebabnya dan program apa yang dapat diberikan agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan guru. Hal ini dapat dilakukan melalui evaluasi diagnostik kesulitan belajar. Evaluasi diagnostik kesulitan belajar merupakan evaluasi yang memiliki penekanan kepada penyembuhan kesulitan belajar siswa yang tidak terpecahkan oleh formula perbaikan yang biasanya ditawarkan dalam bentuk tes formatif. Melalui evaluasi diagnostik kesulitan belajar ini, diharapkan para guru dapat mengidentifikasi beberapa siswa yang memiliki kesulitan belajar.
B.       Konsep Dasar Pengajaran Remedial
1.    Definisi Pengajaran Remedial
Menurut Ischak S.W. dan Warji R. memberikan pengertian Remedial Teaching. Kegiatan perbaikan dalam proses belajar mengajar adalah salah satu bentuk pemberian bentuk pemberian bantuan. Yaitu pemberian bantuan  dalam proses  belajar  mengajar  yang berupa kegiatan perbaikan terprogram dan disusun secara sistematis. Sukardi mengemukakan remedial tidak lain adalah termasuk kegiatan pengajaran yang tepat diterapkan, hanya ketika kesulitan dasar para siswa telah diketahui. Kegiatan remedial merupakan tindakan korektif yang diberikan kepada siswa setelah evaluasi diagnostik dilakukan.
Sehingga, remedial merupakan salah satu tahap kegiatan utama dalam keseluruhan kerangka pola layanan bimbingan belajar, serta merupakan rangkaian kegiatan lanjutan logis dari usaha diagnostik kesulitan belajar mengajar.
2.    Tujuan dan Fungsi Pengajaran Remedial
a.         Tujuan pengajaran remedial
Tujuan pengajaran remedial antara lain:
1)      Agar siswa dapat memahami dirinya
2)      Agar siswa dapat memperbaiki cara belajarnya ke arah yang lebih baik.
3)      Agar siswa dapat memilih materi dan fasilitas belajar secara tepat.
4)      Agar siswa dapat mengembangkan sifat dan kebiasaan yang dapat mendorong tercapainya hasil yang lebih baik.
5)      Agar siswa dapat melaksanakan tugas-tugas belajar yang diberikan kepadanya.
b.        Fungsi pengajaran remedial
Fungsi pengajaran remedial antara lain:
1)      Fungsi korektif
Pengajaran remedial dapat dilakukan terhadap hal-hal yang dipandang belum memenuhi apa yang diharapkan dalam keseluruhan proses pembelajaran.
2)      Fungsi pemahaman
Pengajaran remedial memungkinkan guru, siswa atau pihak-pihak lainnya akan dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai pribadi siswa.
3)      Fungsi penyesuaian
Pengajaran remedial dapat membentuk siswa untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkunan dan proses belajarnya.
4)      Fungsi pengayaan
Pengajaran remedial dapat memperkaya proses pembelajaran yang tidak disampaikan pada pengajaran biasa.
5)      Fungsi akselerasi
Melalui pengajaran remedial akan diperoleh hasil belajar yang lebih baik dengan menggunakan waktu yang efektif dan efisien.
6)      Fungsi Terapeutik
Pengajaran remedial secara langsung atau tidak akan dapat membantu memperbaiki kondisi-kondisi kepribadian siswa yang diperkirakan menunjukkan adanya penyimpangan.
3.    Metode dalam Pengajaran Remedial
Metode yang dapat digunakan dalam pengajaran perbaikan yaitu metode yang dilaksanakan dalam keseluruhan kegiatan bimbingan belajar mulai dari tingkat identifikasi kasus sampai dengan tindak lanjut. Metode yang dapat digunakan yaitu:
a.         Tanya jawab, metode ini digunakan dalam rangka pengenalan kasus untuk mengetahui jenis dan sifat kesulitan siswa.
b.        Diskusi, metode ini digunakan dengan memanfaatkan interaksi antar individu dalam kelompok untuk memperbaiki kesulitan belajar yang dialami oleh sekelompok siswa.
c.         Tugas, metode ini dapat digunakan dalam rangka mengenal kasus dan pemberian bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar.
d.        Kerja kelompok, metode ini hampir bersamaan dengan pemberian tugas dan diskusi yang terpenting adalah interaksi diantara anggota kelompok dengan harapan terjadinya perbaikan pada diri siswa yang mengalami kesulitan belajar.
e.         Tutor adalah siswa sebaya yang ditugaskan untuk membantu temannya yang mengalami kesulitan belajar.
f.         Pengajaran individu adalah interaksi antara guru-siswa secara individual dalam proses belajar mengajar. Pendekatan dengan metode ini bersifat teraputik, artinya mempunyai sifat penyembuhan dengan cara memperbaiki cara-cara belajar siswa.
4.    Strategi dan Teknik dalam Pendekatan Pengajaran Remedial
Strategi dan teknik pengajaran remedial yang dirumuskan oleh Izhar Hasis yang disimpulkan dari Ross and Stanley dan dari Dinkmeyer and Caldweel dalam bukunya Developmental Counseling adalah sebagai berikut:
a.         Strategi dan teknik pendekatan remedial teaching yang bersifat kuratif
Tindakan remedial teaching dikatakan bersifat kuratif kalau dilakukan setelah selesainya program proses belajarmengajar utama diselenggarakan. Teknik yang dipakai dalam strategi ini adalah pengulangan, pengayaan dan pengukuhan, percepatan.
b.        Strategi dan teknik pendekatan remedial teaching yang bersifat preventif
Strategi dan teknik pendekatan preventif diberikan kepada siswa tertentu berdasarkan data atau informasi yang ada dapat diantisipasi atau setidaknya patut diduga akan mengalami kesulitan dalam  menyelesaikan tugas-tugas belajar. Teknik yang digunakan adalah layanan pengajaran kelompok yang diorganisasikan secara homogen.
c.         Strategi dan teknik pendekatan remedial teaching yang bersifat pengembangan
Pendekatan pengembangan merupakan tindak lanjut dari during teaching diagnostic atau upaya diagnostik yang dilakukan guru selama berlangsungnya proses belajar mengajar.
5.    Langkah-langkah Melaksanakan Pengajaran Remedial
Pengajaran remedial merupakan salah satu bentuk bimbingan belajar dapat dilaksanakan melalui langkah-langkah sebagai berikut:
a.         Meneliti kasus dengan permasalahannya sebagai titik tolak kegiatan-kegiatan berikutnya.
b.        Menentukan tindakan yang harus dilakukan.
1)        Jika kasusnya ringan, tindakan yang ditentukan adalah memberikan pengajaran remedial kepada siswa tersebut.
2)        Jika kasusnya cukup dan berat, maka sebelum diberikan pengajaran remedial, siswa harus diberikan layanan konseling terlebih dahulu.
c.    Pemberian layanan khusus yaitu bimbingan dan konseling
Tujuan dari layanan khusus bimbingan konseling ini adalah mengusahakan agar siswa yang terbatas dari hambatan mental emosional (ketegangan batin), sehingga kemudian siap menghadapi kegiatan belajar secara wajar
d.   Langkah pelaksanaan pengajaran remedial.
e.    Melakukan pengukuran kembali terhadap prestasi belajar siswa dengan alat tes sumatif.
f.     Melakukan re-evaluasi dan re-diagnostik.
6.    Perbandingan Prosedur Pengajaran Biasa dan Remedial
Pengajaran Biasa
Pengajaran Remedial
Semua siswa ikut berpartisipasi.
Diadakan pelayanan khusus bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar.
Tujuan pengajaran ditetapkan sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
Tujuan pengajaran disesuaikan dengan kesulitan belajar siswa.
Metode dalam pengajaran biasa untuk semua siswa.
Metode dalam pengajaran berdiferensial (sesuai dengan sifat, jenis, dan latar belakang kesulitan).
Pengajaran dapat dilakukan oleh guru.
Pengajaran dilakukan oleh tim (kerjasama).
Selain itu, pengajaran remedial lebih diferensial dengan pendekatan individual, alat pengajarannya lebih bervariasi dan evaluasinya disesuaikan dengan kesulitan belajar yang dialami oleh siswa.
7.    Peran Aparan Sekolah, Orang Tua, dan Masyarakat dalam Program Pendidikan dan Pengajaran Remedial
Pelaksanaan pendidikan dan pengajaran remedial merupakan tanggung jawab bersama antara kepala sekolah, guru, orang tua, pemerhati pendidikan, tata usaha, dan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang terkait.
a.    Kepala Sekolah
1)      Kepala sekolah harus menguasai sepenuhnya program pendidikan dan pengajaran remedial di sekolah.
2)      Kepala sekolah menyediakan sumber belajar yang lengkap dan dapat digunakan setiap waktu sesuai dengan kebutuhan.
3)      Kepala sekolah memiliki jalinan kerja sama yang baik dengan orang tua siswa di rumah.
4)      Kepala sekolah mendirikan dan mengembangkan Lembaga Pusat Bimbingan dan Penyuluhan yang berfungsi menangani kesulitan-kesulitan siswa dalam mempelajari pengetahuan.
5)      Kepala sekolah mampu mengangkat seorang ekspert yang bertugas sebagai guru pendidikan remedial
b.    Orang Tua Siswa
1)      Menerima dengan baik kunjungan sekolah di rumah.
2)      Bersikap tanggap terhadap pembicaraan kasus putra-putranya.
3)      Senang menghadiri undangan sekolah untuk membicarakan kasus putra-putranya.
4)      Memberikan data objektif selengkap mungkin tentang kelemahan-kelemahan putranya dalam pelajaran.
5)      Membantu memprediksi dan memberi latihan sepenuhnya terhadap kasus yang dihadapinya.
c.    Staf Tata Usaha Sekolah
Mengadministrasi data-data kasus mulai dari latar belakang kesulitan belajar, hingga cara memprediksi penyembuhannya dan penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran remedial.
d.   Pemilik Sekolah
1)      Melakukan kunjungan rutin ke sekolah.
2)      Menyelenggarakan diskusi periodik dengan kepala sekolah dan guru-guru tentang upaya pemecahan kesulitan belajar siswa.
3)      Menyelenggarakan upaya kerja sama yang baik dengan lembaga-lembaga terkait.
e.    Para pemerhati pendidikan
Para pemerhati pendidikan adalah orang-orang yang menaruh perhatian penuh terhadap proses dan hasil pendidikan yang dicapai siswa di sekolah.
f.     Lembaga-lembaga Kemasyarakatan Terkait
Keterkaitan lembaga-lembaga kemasyarakatan terkait dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran remedial khususnya untuk penanganan kasus kenakalan remaja diperlukan.
8.    Evaluasi Pengajaran Remedial
Pada akhir kegiatan siswa diadakan evaluasi dengan tujuan paling utama adalah diharapkan 75% taraf penguasaan. Bila ternyata belum berhasil maka dilakukan diagnostik dan memperoleh pengajaran remedial kemabali.

REFERENSI
Makalah kelompok 8 (Konsep Dasar Diagnostik Kesulitan Belajar dan Pengajaran Remedial)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar